Menjadi warga dunia dan menjadi warganegara suatu kawasan apakah tidak mencabik diri seseorang?
Sudah menjadi fenomena umum arus deras berita dunia menghempas bagaikan gelombang laut. Datang dan pergi membawa identitas seseorang dari pantai identitas lokal ke samudera identitas dunia. Apa ada yang hilang?
Arus ke pantai lokal sangat kuat. Arus itu paling kuat datang dari dunia hiburan. Ketika tahun 1930 an industri Holywood menggunakan pendekatan bintang daripada naskah filem, maka aktor dan aktris filem menjadi, tepatnya dijadikan, bintang. Hebatnya arus melalui media teknologi informasi menyebabkan bokong dan dada Kim Kadarshian populer. Apa luar biasanya? keunggulan membuat sensasi.
Gelombang lain dibawa oleh industri pornografi yang mudah sekali menarik minat lelaki muda dan, jangan salah, dewasa.
Gelombang lain datang dari berita remeh temeh yang mengalihkan perhatian sesaat saja. Berita kecil yang lucu, aneh, unik dan konyol. Media sudah umum menyelipkan kisah itu dalam kolomnya
Gelombang lain datang dari tip kesehatan, kebugaran, sukses dan hidup bahagia
Gelombang lain dimanfaatkan oleh sekelompok radikal untuk menyebarkan ide-ide yang gila. Mereka yang menyebut diri IS, misalnya. Tiga remaja perempuan Inggris kabur mau bergabung hanya karena mereka di dalam kamar tersentuh dengan ajakan penceramah yang jago.
Pilihan informasi yang melimpah ini membawa manfaat yang besar dalam pengetahuan. Kita bisa belajar dengan mudah dan cepat. Bahasa Inggris, misalnya sebagai bahasa global sudah punya rasa Asia, Amerika, Singapura atau Afrika. Tidak ada yang salah mengatakan "three" dengan "tree." Tetapi hati-hati dengan "bag" atau "back." Bilang "Punggungmu bagus" haha, bisa melecehkan itu.
Tetapi sistem otak yang lambat mengolah informasi, sistem #2 kata Daniel Kahneman, akan dikalahkan oleh otak yang responsif. Blink! informasi disebarkan dan diterima sebagai kebenaran dalam bilangan detik. Kutip dan kirim sudah umum di media sosial. Kotak sampah penuh dalam sehari.
Pantai sebagai gambaran tradisi, karakteristik lokal terkikis dengan dahsyat. Maka bokong Kim tadi lebih populer daripada cakra Pangeran Diponegoro. Siapa peduli sama sejarah. Apa sisi menariknya? Darimana sejarah menghasilkan duit?
Maka tiap orang mengakui bisa menjadi pengamat yang baik dalam kasus BW dan BG hanya dari mengaduk aduk informasi yang berterbangan di dunia maya.
Kita pada akhirnya mengalami pikiran yang penuh. Perlu defrag. Waktu memang linier dan sempit rasanya. Tradisi lokal dihimpit dengan kuat oleh arus samudera dunia. Anak-anak tidak belajar bahasa Indonesia menjelang ulangan. Apa gunanya? Sejak kecil malahan banyak keluarga menggunakan kata "dad" dan "mum."
Mungkin saatnya rehat dan memandang ke dalam diri sendiri. Menghilangkan riuh rendah arus samudera. Hening. Wayne Dryer, psikolog, mengatakan kita tidak bahagia karena salah : memandang keluar bukan memandang ke dalam diri kita. Mungkin perlu ditambahkan, kita kehilangan tanah berpijak karena berniat menjadi warga negara dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar