Kamis, 08 Desember 2011

paralel wayang dan iman katolik

Paralel Kisah Wayang dan Iman Katolik

Wayang sudah ditetapkan menjadi warisan budaya dunia oleh Unesco. Banyak orang kota sekarang ini kurang dapat menikmati wayang karena beberapa alasan. Tetapi setidaknya rohaniawan Magniz Suseno sangat mengagumi tokoh wayang Karna karena beliau salah seorang penggemar. Wayang memang unik karena di dunia wayang tersebut manusia, raksasa, binatang dan dewa-dewi hidup berdampingan. Manusia dan dewa, misalnya,  berhubungan seperti layaknya dua kelompok masyarakat yang meskipun berbeda status dan kesaktian bisa saling berkomunikasi, bekerja sama dan bahkan jatuh cinta, kawin dan mempunyai keturunan. Demikian juga manusia dan raksasa. Bima yang gagah perkasa, berkuku panjang dan tidak pernah duduk, mempunyai isteri raksasa. Gatotkaca anaknya bisa terbang bagaikan superman. Kisah Dewi Sukesi berikut ini bisa dibilang membawa pesan iman.
Dalam Perjanjian Lama (Ul 2.9) disebutkan bahwa di tengah taman Firdaus ada pohon yang”memberi hidup  yang memberi pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat” atau “pengetahuan tentang segala sesuatu. “ Hawa dan Adam jatuh ke dalam dosa karena tergoda memakan buah terlarang pohon itu.
Dalam kisah Ramayana, Begawan Wisrawa demi cinta kepada sang anak datang melamar kepada raja Alengka. Ia sebenarnya mencegah agar tidak terjadi pertumpahan darah dari perang dua kerajaan hanya karena gara-gara cinta sang anak kepada Dewi Sukesi puteri raja Alengka. Singkat cerita Begawan Wisrawa mendatangi ayah dewi Sukesi yaitu Prabu Sumali, seorang raksasas yang berhati manusia. Prabu Sumali sudah membujuk anaknya untuk menentukan jodoh karena sudah banyak raja mati di tangan sang paman Arya Jambumangli. Karena siapapun yang mau melamar harus bisa mengalahkan paman sang dewi yang sakti itu.
Prabu Sumali begitu bertemu dengan Wisrawa mengatakan “ Kakakku, Wisrawa. Akankah kau menambah dosaku dengan melihat darahmu mengalir di Alengka…? Ketahuilah Sukesi hanya mau menyerahkan diri kepada siapa yang dapat menguraikan makna Sastra Jendra Hayuningrat Pengruwating Diyu!” Yang disebut itu adalah ilmu sakti rahasia yang tiada taranya yang hanya dimiliki oleh sang Begawan Wisrawa.
Sebenarnya Wisrawa bimbang hati. Menguraikan arti serat itu akan membuat jagat raya marah. Tetapi dia sangat mencintai putranya. Maka melalui pergulatan batin, akhirnya dia bersedia mengudar serat tersebut. Maka dimulailah perjalanan sang Dewi bersama Begawan ke suatu dunia, keadaan lingkungan yang belum pernah didatangi, dirasakan, atau dialami mereka. Sukesi diterangi cahaya, menggigil tubuhnya seperti berada di puncak dunia. Sukesi masuk ke dalam waktu yang abadi, dunia yang tidak ada siang dan malam. Kemudian di masuk ke dalam dirinya sendiri. Di sana mengalir kelemahannya berupa  penderitaan dan kesengsaraan, sekaligus mengalir kebahagiaan dan kegembiraan.
Secara indah pater Sindhunata (Anak Bajang Menggiring Angin – Gramedia) yang menjadi sumber tulisan ini, menguraikan Sukesi yang merasakan dirinya terbang dan dunia ini diangggapnya bukan tempatnya lagi .Kemudian Sukesi dibawa masuk ke dalam dunia nafsunya sendri, dunia kepasrahan diri . Jiwanya terombang ambing antara kebaikan dan kejahatan.
Perjalanan batin Wisrawa dan Sukesi dalam membedah serat sakti itu menyebabkan di kayangan tempat dewa dan dewi tinggal terjadi huru hara. Maka Batara Guru , raja pada dewa ingin tahu apa penyebabnya. Dia pun kemudian mencobai kedua manusia yang membuat ulah itu. Percobaan pertama ke masing masing pria dan wanita itu tidak berhasil. Masing-masing kukuh dengan dirinya. Maka Batara Guru meminta dewi Uma, isterinya, untuk membantu.
Kali iini mereka berdua berhasil. Akibatnya sungguh sangat dahsyat. Begawan Wisrawa yang suci murni dan dewi Sukesi yang cantik, sombong itu jatuh ke dalam dosa nafsu mereka sendiri. Inilah tragedi terbesar umat manusia. Terlambat, meskipun keduanya sungguh-sungguh menyesal.
Hasil hubungan mereka lahirlah darah, telinga dan kuku manusia. Darah menjadi anak manusia bermuka sepuluh. Telinga menjadi anak manusia sebesar gunung Anakan dan kuku menjadi raksasa manusia yang berbau tidak sedap. Wisrawa memberi nama anaknya masing-masing Rahwana, Kumbakarna dan Sarpakenaka.
Rahwana seperti kita ketahui menjadi raksasa sakti yang tulen jahat dalam kisah Ramayana. Kumbakarna menjadi sang raksasa, seorang adik bijak bestari sebagai lambang penyesalan dosa. Sedangkan Sarpakenaka menjadi lambang wanita yang tidak mempunyai keistimewaan kecuali kegemarannya akan lawan jenisnya. Alkisah, kemudian Wisrawa dan Sukesi mempunyai anak lagi yang dinamai Gunawan Wibisana, seorang manusia sempurna yang baik dan bijaksana. Dalam kisah perjuangan melawan angkara murka Rahwana menjadi inti ceritanya.
Kita bisa melihat paralel kisah wayang itu dengan kitab Ulangan dalam Perjanjian Lama. Bisa dibilang manusia itu apabila ada kemungkinan bisa mendapatkan rahasia pohon pengetahuan, akibatnya malahan tidak baik. Manusia yang fana, lemah, penuh nafsu tidak akan kuat dan jatuh ke dalam dosa ketika mendapatkan seluruh pengetahuan duniawi dan surgawi.
***
tulisan ini pendapat pribadi, hanya untuk berbagi iman bukan pengajaran.@w

Tidak ada komentar:

Posting Komentar