This is my blog in bahasa Indonesia. Being Indonesian, after 50s, I humbly like to share everything you may find that you can also share.
Kamis, 22 Desember 2011
Fraud: Motif, Tanda-Tanda dan Pengendaliannya
Dalam Buklet Perbankan 2010, Bank Indonesia mengartikan fraud sebagai penipuan, penggelapan,dan/atau kecurangan.
Fraud terjadi karena ada kesempatan untuk melakukannya. Rumusannya seperti berikut. Umumnya ada kelemahan dalam pengendalian intern entah berupa celah dalam kebijakan, tehnologi informasi atau pengawasan transaksi tidak dilakukan secara rutin. Ibaratnya, jendela rumah yang rusak (broken window) mengundang pencuri. Pelaku fraud menghadapi tekanan kebutuhan pribadi atau tidak memiliki integritas pribadi yang kuat. Maka pelaku mempunyai alasan yang masuk akal untuk memperkaya diri. Rasionalisasi seperti “gaji saya kurang,” atau “Orang lain juga melakukan,” atau “perusahaan tidak akan bangkrut karena saya” sepertinya membenarkan aksi si pelaku. Rumusan sederhananya : F = K+R. Fraud adalah kelemahan internal yang dimanfaatkan dengan rasionalisasi pelaku untuk keuntungan pribadi.
Dari statistik, karyawan usia pertengahan duapuluhan sampai pertengahan empatpuluhan termasuk karyawan yang rawan melakukan fraud. Lelaki juga lebih banyak melakukan fraud. Pemicunya berkisar tekanan kebutuhan pribadi seperti kebutuhan keluarga yang meningkat, keluarga sakit, sampai perubahan gaya hidup, masalah keluarga, judi dan narkoba. Dapat dikatakan aneh juga bahwa ada fraud yang cepat atau lambat akan diketahui seperti pencurian uang tunai atau dana nasabah. Pelaku umumnya juga seperti layaknya sifat manusia menjadi tamak apabila usahanya tidak cepat diketahui. Ia melakukan terus dalam jumlah yang semakin besar.
Fraud bukannya tanpa ada tanda-tanda maka bendera merah adanya kasus bisa disebutkan di sini :
a. Karyawan kelihatan rajin, datang pagi dan pulang malam, bahkan bekerja di akhir pekan,tidak pernah mengambil cuti atau sakit,
b. Karyawan mengerjakan semua pekerjaan sendiri,
c. Karyawan mengajukan transaksi atau permintaan persetujuan pada saat-saat ramai, menjelang tutup kantor, sholat Jumat atau liburan panjang,
d. Permintaan yang urgen, permintaan persetujuan dengan terburu-buru, diajukan bahkan bukan kepada atasan langsung yang berwenang,
e. Perubahan dalam diri karyawan karena: gaya hidup, perilaku, kasus keluarga,informasi ‘negatif’ dari rekan sekerja.
Perusahaan perlu melakukan anti fraud program dalam skala besar melalui progam yang berkesinambungan.
Pencegahan fraud dilakukan melalui aktivita pengendalian utama yang meliputi 5 hal yaitu :
1. Kewaspadaan terhadap Pengawasan
Fraud dapat diibaratkan sebagai pencuri yang datangnya tidak bisa diduga, demikian pula sebenarnya integritas seorang karyawan. Perusahaan dengan demikian perlu menciptakan kondisi yang kondusif terhadap pengendalian intern yang bertujuan mencegah fraud. Hal ini menjadi tugas dari Direksi dan Komisaris untuk menciptakan ‘tone from the top’ sehingga lingkungan kerja bersih dan karyawan disiplin dalam bekerja.
2. Pemisahan tugas dan tanggung jawab
Ada pelanggaran yang fatal dari tindakan sepele seorang pemimpin cabang yang menyerahkan kunci brankas yang dipegangnya kepada anak buah tanpa diawasi. Kejadian ini cuma karena pemimpin cabang percaya sekaligus juga malas untuk membuka pintu kantor dan membuka brankas. Ia lebih baik melakukan hal lain: baca koran atau duduk-duduk saja, sambil menunggu kantor siap dibuka. Pelanggaran terhadap tugas yang seharusnya dilakukan berdua (four eyes) ini sangat rawan terhadap fraud. Beberapa fungsi di Perusahaan wajib dilakukan berdua seperti pengelolaan uang tunai, penyimpanan bukti kepemilikan perusahaan/nasabah.
3. Otorisasi dan verifikasi
Dalam pekerjaan seseorang yang semakin tinggi posisinya mendapatkan limit otorisasi yang lebih besar. Posisi karyawan membawa tanggung jawab yang harus diverifikasi kebenarannya oleh pihak independen. Fungsi audit dan pengendalian intern dalam mengawasi tidak boleh dipandang sebelah mata. Lebih baik kompetensi unit tersebut ditingkatkan daripada karena temuannya biasa-biasa saja maka temuannya tidak ditindak lanjuti.
4. Pengawasan terhadap aset
Pengawasan terhadap aset Perusahaan dan termasuk aset nasabah di Perusahaan dapat dilakukan secara fisik maupun melalui tehnologi informasi. Pengawasan fisik tidak bisa diabaikan untuk uang tunai, dokumen jaminan dan inventaris Perusahaan. Pengawasan melalui peranti lunak audit sekarang ini semakin banyak digunakan karena efektif untuk menjaring penyimpangan yang luas dari berbagai skenario kemungkinan fraud. Audit dengan bantuan tehnologi bisa mendeteksi mutasi rekening tidur, transaksi abnormal, transaksi oleh cabang lain sehingga verifikasi bisa dilakukan segera.
5. Monitor terus menerus
Dalam transaksi yang semakin banyak dan cepat, Perusahaan memerlukan unit khusus yang bisa monitor transaksi nasabah. Hal ini berlaku untuk unit yang menangani fungsi anti pencucian uang. Tugas ini bisa dibagi antara bagian keuangan/pembukuan dan bagian pengendalian intern/internal control. Secara umum kewaspadaan rekan sekerja dan atasan membantu pengungkapan kasus. Jalur pelaporan whistle blowing sanga bermanfaat untuk mengungkapkan kasus. Beberapa perusahaan sudah mempunyai aturan agar karyawan diminta cuti beberapa hari berurutan dalam setahun, misalnya cuti seminggu, rotasi karyawan dilakukan secara rutin, meja kerja karyawan diperiksa oleh Audit secara berkala atau saat karyawan cuti.
Kami banyak mencatat dan mempelajari dalam berbagai kasus dimanapun tempatnya, sekuat apapun internal control akan menjadi tidak efektif atau berkurang efektivitasnya bila terdapat kolusi. (Penjelasan Gubernur Bi di depan Komisi XI DPR- 5 April 2011)
Power distance
Malcom Gladwell (Outliers) menyampaikan cerita insiden jatuhnya sebuah pesawat komersial Columbia di dekat New York. Investigasi pihak berwenang menemukan penyebabnya yang mengejutkan, yaitu bahwa pesawat itu jatuh karena kehabisan bahan bakar. Kejadian aneh itu ditelusuri sampai ke pembicaraan di kokpit. Penyelidik menemukan bahwa pilot dan ko-pilot mengetahui bahan bakar pesawat tidak cukup. Mengapa terjadi? Galdwell yang menceritakan kasus ini dengan menarik menulis bahwa ternyata menara bandara New York itu terkenal kasar terhadap pesawat yang minta ijin mendarat. Bandara itu juga sangat sibuk. Dua hal itu mempengaruhi percaya diri pilot pesawat dari suatu negara kecil yang membutuhkan otorisasi untuk mendarat.
Cerita di atas menyangkut kultur. Geert Hoftstede pernah mengukur budaya bangsa-bangsa di dunia. Ia mengatakan jurang atasan-bawahan (power distance) masing-masing negara tidak sama. Sebagai contoh, di Indonesia beberapa kasus korupsi yang terungkap mendukung pendapat bahwa bawahan melakukan sesuatu karena disuruh oleh atasannya.
Kasus fraud Perusahaan yang benar-benar besar tentu menyangkut pejabat tingginya, maka bawahan sepertinya perlu dibawa ke suatu lingkungan yang baik di mana seorang bawahan bisa menolak transaksi yang tidak benar. Yang paling susah memang menolak perintah atasan. Artinya fraud perlu dicegah dari atas dengan menciptakan budaya perusahaan yang baik.***
Minggu, 11 Desember 2011
Bangun !
Bangun !
Anthony de Mello, almarhum, seorang pastor Katolik yang berkarya di India yang bekerja keras tetapi masih sempat berdoa 5 jam sehari. Kecenderungannya untuk mengajarkan meditasi spiritual ala Hindu menyebabkan kritik terhadap dirinya. Namun demikian dia mempunyai banyak pengikut. Kalau diperhatikan buku-bukunya dalam bahasa Indonesia sekarang sudah jarang ditemukan.
Ini cerita lucu yang disampaikannya pada suatu seminar di mana beliau mengajarkan agar kita "bangun" - membuka kesadaran diri untuk mencapai jalan rohani.
Last year on Spanish television I heard a story about
this gentleman who knocks on his son’s door. “Jaime,” he says, “wake up!” Jaime
answers, “I don’t want to get up, Papa.” The father shouts, “Get up, you have
to go to school.” Jaime says, “I don’t want to go to school.” “Why not?” asks
the father. “Three reasons,” says Jaime. “First, because it’s so dull; second,
the kids tease me; and third, I hate school.” And the father says, “Well, I am
going to give you three reasons why you must go to school. First, because it is
your duty; second, because you are forty-five years old, and third, because you
are the headmaster.” Wake up, wake up! You’ve grown up. You’re too big to be
asleep. Wake up! Stop playing with your toys.
***
Kamis, 08 Desember 2011
paralel wayang dan iman katolik
Paralel Kisah Wayang dan Iman Katolik
Wayang sudah ditetapkan menjadi warisan budaya dunia oleh Unesco. Banyak orang kota sekarang ini kurang dapat menikmati wayang karena beberapa alasan. Tetapi setidaknya rohaniawan Magniz Suseno sangat mengagumi tokoh wayang Karna karena beliau salah seorang penggemar. Wayang memang unik karena di dunia wayang tersebut manusia, raksasa, binatang dan dewa-dewi hidup berdampingan. Manusia dan dewa, misalnya, berhubungan seperti layaknya dua kelompok masyarakat yang meskipun berbeda status dan kesaktian bisa saling berkomunikasi, bekerja sama dan bahkan jatuh cinta, kawin dan mempunyai keturunan. Demikian juga manusia dan raksasa. Bima yang gagah perkasa, berkuku panjang dan tidak pernah duduk, mempunyai isteri raksasa. Gatotkaca anaknya bisa terbang bagaikan superman. Kisah Dewi Sukesi berikut ini bisa dibilang membawa pesan iman.
Dalam Perjanjian Lama (Ul 2.9) disebutkan bahwa di tengah taman Firdaus ada pohon yang”memberi hidup yang memberi pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat” atau “pengetahuan tentang segala sesuatu. “ Hawa dan Adam jatuh ke dalam dosa karena tergoda memakan buah terlarang pohon itu.
Dalam kisah Ramayana, Begawan Wisrawa demi cinta kepada sang anak datang melamar kepada raja Alengka. Ia sebenarnya mencegah agar tidak terjadi pertumpahan darah dari perang dua kerajaan hanya karena gara-gara cinta sang anak kepada Dewi Sukesi puteri raja Alengka. Singkat cerita Begawan Wisrawa mendatangi ayah dewi Sukesi yaitu Prabu Sumali, seorang raksasas yang berhati manusia. Prabu Sumali sudah membujuk anaknya untuk menentukan jodoh karena sudah banyak raja mati di tangan sang paman Arya Jambumangli. Karena siapapun yang mau melamar harus bisa mengalahkan paman sang dewi yang sakti itu.
Prabu Sumali begitu bertemu dengan Wisrawa mengatakan “ Kakakku, Wisrawa. Akankah kau menambah dosaku dengan melihat darahmu mengalir di Alengka…? Ketahuilah Sukesi hanya mau menyerahkan diri kepada siapa yang dapat menguraikan makna Sastra Jendra Hayuningrat Pengruwating Diyu!” Yang disebut itu adalah ilmu sakti rahasia yang tiada taranya yang hanya dimiliki oleh sang Begawan Wisrawa.
Sebenarnya Wisrawa bimbang hati. Menguraikan arti serat itu akan membuat jagat raya marah. Tetapi dia sangat mencintai putranya. Maka melalui pergulatan batin, akhirnya dia bersedia mengudar serat tersebut. Maka dimulailah perjalanan sang Dewi bersama Begawan ke suatu dunia, keadaan lingkungan yang belum pernah didatangi, dirasakan, atau dialami mereka. Sukesi diterangi cahaya, menggigil tubuhnya seperti berada di puncak dunia. Sukesi masuk ke dalam waktu yang abadi, dunia yang tidak ada siang dan malam. Kemudian di masuk ke dalam dirinya sendiri. Di sana mengalir kelemahannya berupa penderitaan dan kesengsaraan, sekaligus mengalir kebahagiaan dan kegembiraan.
Secara indah pater Sindhunata (Anak Bajang Menggiring Angin – Gramedia) yang menjadi sumber tulisan ini, menguraikan Sukesi yang merasakan dirinya terbang dan dunia ini diangggapnya bukan tempatnya lagi .Kemudian Sukesi dibawa masuk ke dalam dunia nafsunya sendri, dunia kepasrahan diri . Jiwanya terombang ambing antara kebaikan dan kejahatan.
Perjalanan batin Wisrawa dan Sukesi dalam membedah serat sakti itu menyebabkan di kayangan tempat dewa dan dewi tinggal terjadi huru hara. Maka Batara Guru , raja pada dewa ingin tahu apa penyebabnya. Dia pun kemudian mencobai kedua manusia yang membuat ulah itu. Percobaan pertama ke masing masing pria dan wanita itu tidak berhasil. Masing-masing kukuh dengan dirinya. Maka Batara Guru meminta dewi Uma, isterinya, untuk membantu.
Kali iini mereka berdua berhasil. Akibatnya sungguh sangat dahsyat. Begawan Wisrawa yang suci murni dan dewi Sukesi yang cantik, sombong itu jatuh ke dalam dosa nafsu mereka sendiri. Inilah tragedi terbesar umat manusia. Terlambat, meskipun keduanya sungguh-sungguh menyesal.
Hasil hubungan mereka lahirlah darah, telinga dan kuku manusia. Darah menjadi anak manusia bermuka sepuluh. Telinga menjadi anak manusia sebesar gunung Anakan dan kuku menjadi raksasa manusia yang berbau tidak sedap. Wisrawa memberi nama anaknya masing-masing Rahwana, Kumbakarna dan Sarpakenaka.
Rahwana seperti kita ketahui menjadi raksasa sakti yang tulen jahat dalam kisah Ramayana. Kumbakarna menjadi sang raksasa, seorang adik bijak bestari sebagai lambang penyesalan dosa. Sedangkan Sarpakenaka menjadi lambang wanita yang tidak mempunyai keistimewaan kecuali kegemarannya akan lawan jenisnya. Alkisah, kemudian Wisrawa dan Sukesi mempunyai anak lagi yang dinamai Gunawan Wibisana, seorang manusia sempurna yang baik dan bijaksana. Dalam kisah perjuangan melawan angkara murka Rahwana menjadi inti ceritanya.
Kita bisa melihat paralel kisah wayang itu dengan kitab Ulangan dalam Perjanjian Lama. Bisa dibilang manusia itu apabila ada kemungkinan bisa mendapatkan rahasia pohon pengetahuan, akibatnya malahan tidak baik. Manusia yang fana, lemah, penuh nafsu tidak akan kuat dan jatuh ke dalam dosa ketika mendapatkan seluruh pengetahuan duniawi dan surgawi.
***
tulisan ini pendapat pribadi, hanya untuk berbagi iman bukan pengajaran.@w
Langganan:
Komentar (Atom)